Minggu, 14 Juni 2009

Persaingan di Lingkar Kekuasaan Saudi Arabia


Masih ingat kejadian di Washington pada 2006 lalu? Ketika itu terjadi peristiwa yang unik. Pangeran Turki al Faisal secara tiba-tiba mengundurkan diri sebagai Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat (AS). Padahal, masa jabatannya sebagai Duta Besar di Washington baru sekitar 17 bulan.


Bandar dan Turki saling sikutLebih aneh lagi, Turki al Faisal bukanlah diplomat yang sembarangan. Dia sempat sekelas dengan mantan Presiden AS Bill Clinton. Sebelum menjadi Duta Besar untuk kerajaan Inggris dan AS, putra bungsu Raja Faisal tersebut sempat mengepalai dinas intelijen Arab Saudi selama 24 tahun. Guru intelijennya pun tidak tanggung-tanggung, mata-mata legendaris Perancis Count Alexander de Marenches. Dari sini, jelaslah sudah bahwa Turki al Faisal merupakan kekuatan politik yang patut diperhitungkan di kerajaan Arab Saudi. Punya hubungan darah (trah) dengan keluarga kerajaan, punya akses ke sumber-sumber intelijen kelas satu, dan relasi yang luas dengan kalangan internasional di Amerika dan Eropa. Namun Turki al Faisal bukanlah satu-satunya kekuatan yang patut diperhitungkan di lingkar inti kekuasaan Raja Abdullah.


Adalah Pangeran Bandar bin Sultan, yang memiliki kedekatan dengan keluarga George Bush tua maupun muda. Bandar bin Sultan, yang sekarang masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional kerajaan Arab Saudi, seperti halnya dengan al Faisal, juga pernah menjabat Duta Besar Arab Saudi di AS. Setelah kedua masa jabatan Bandar bin Sultan dan al Faisal sebagai Duta Besar Saudi di AS berakhir, kemudian Adil al Jubairi terpilih mengganti mereka berdua. Hanya saja, al Jubairi tidak termasuk golongan ”darah biru.” Dia hanya penasehat pribadi Raja Abdullah bidang kebijakan luar negeri.Hubungan Bandar dan Turki memang tidak bisa dibilang mesra. Bandar yang sudah menjadi Duta Besar AS sejak era Ronald Reagan , tak heran jika punya hubungan persahatan yang dekat dengan beberapa kroni Reagan seperti George Bush Tua dan mantan Wakil Presiden Dick Cheney yang mendampingi George Bush muda sebagai presiden dalam periode kepresidenan AS antara 2000-2008. Melalui hubungan Bandar dan kroni Bush inilah, kongsi bisnis antara para pengusaha minyak Saudi dan AS secara erat terjalin. Adanya ”perselingkuhan” kroni Bush dan Bandar inilah yang memicu pengunduran diri Turki al Faisal sebagai Duta Besar AS pada 2007.


Beberapa sumber mewartakan bahwa meski sebagai Duta Besar, al Faisal merasa tidak dilibatkan dalam kunjungan kenegaraan Wakil Presiden Cheney ke Arab Saudi. Beda Cara Pandang Melihat Iran Tujuan SamaMeski tidak ada kaitannya dengan pengunduran diri al Faisal sebagai Duta Besar Saudi di AS, ada kejadian menarik ketika itu. Yaitu bocornya sebuah rencana Saudi di Irak. Nawaf Ubayd, bawahan Turki, dalam artikelnya di Washington Post 29 November 2006, menyatakan Saudi siap melakukan intervensi besar-besaran ke Irak membantu kaum ekstrem Wahhabi, melalui bantuan dana, senjata, dan logistik kepada milisi Wahhabi untuk menghantam kaum Syiah dan adu domba kaum Sunah dan Syiah. Dari berbagai data dan sumber informasi [Global Future Institute], banyak kalangan elite Saudi yang sebenarnya menyokong pendapat Ubayd, termasuk Raja Abdullah. Ketika itu berita Washington Post yang mengutip pernyataan provokatif Ubayd, memang sekadar uji materi untuk memancing opini publik, sekaligus menyudutkan Dubes al Faisal dalam posisi sulit. Alhasil, Ubayd tak lama kemudian dipecat dari jajaran staf diplomatik kedutaan Arab Saudi di Washington. Harus diakui, perkembangan di Irak pasca kejatuhan Saddam Husein yang bergeser ke kelompok Islam Syiah yang berpenduduk mayoritas di Irak, Arab Saudi sebenarnya sangatlah ketakutan. Atau kalau mau lebih spesifik, ketakutan dinasti Saud terhadap perkembangan situasi di Timur Tengah dan utamanya di Irak, yang mengarah pada semakin menguatkanya pengaruh Iran dan Islam Syiah di Irak. Apalagi ketika dalam menghadapi serangan Israel ke Lebanon, gerakan Islam bernama Hizbullah , ternyata memiliki kemampuan militer yang cukup mengagetkan. Bahkan dari segi peralatan militer pun, Hizbullah ternyata memilliki pesawat udara tanpa awak UAV.


Bisa dimengerti jika Bani Saud, yang mana Bandar bin Sultan termasuk di dalamnya, menganggap ekspansi kekuatan Syiah di Irak dan Iran bisa mengancam status quo kerajaan Saudi yang wahhabi. Tak heran jika Saudi bersama dua negara sekutu Israel, Yordania dan Mesir, semakin erat dalam menjalin persekutuan taktis. Bahkan dengan Israel, Saudi pun diam-diam menjalin kontak untuk membendung ancaman Iran. Sedemikian ketakutannya kerajaan Ibnu Saud ini, sehingga bila perlu Saudi akan merestui dan mendukung jika AS ataupun Israel suatu waktu menyerbu secara militer ke Iran.Sebaliknya al Faisal, termasuk yang menganggap sikap konfrontatif Bandar bin Sultan sebagai tindakan yang tidak taktis. Dia lebih menganjurkan sikap yang menekankan kehati-hatian dan menggunakan pendekatan melalui jalur diplomasi. Turki al Faisal, nampaknya lebih sehaluan dengan Presiden AS, Barrack Obama, untuk mengadakan dialog secara langsung dengan Iran dalam segala masalah. Yang kiranya masih harus dipantau secara lebih seksama adalah, apakah perseteruan Bandar dan Turki hanya sebatas perbedaan metode Arab Saudi dalam mengembangkan politik luar negeri atau memang sudah pada taraf pertarungan perebutan kekuasaan di internal Bani Saud. Bandar bin Sultan yang berasal dari klan Sudairi merupakan putra dari Sultan bin Abdul Azis yang sekarang putra mahkota, dikenal pro-barat dan dekat dengan kalangan kapitalis dari sektor bisnis industri berat, minyak, pertambangan dan energi. Sedangkan Turki al Faisal, yang terhitung keponakan langsung dari Raja Abdullah, cenderung menganut pendekatan realisme politik namun memiliki sikap nasionalisme arab yang tinggi.Lepas dari itu semua, pertarungan antar pangeran di internal Bani Saud bisa-bisa akan menjurus ke pertumpahan darah atau pembunuhan politik bahkan kondisi di dalam kerajaan Saudi saat ini sudah mengarah ke arah sana. Sejarah mencatat Raja Faisal mati terbunuh akibat ulah salah seorang anggota keluarga kerajaan. Dan dimungkinkan kejadian yang menimpa Faisl bisa jadi terulang.


Perlu diketahui bahwa seluruh anggota keluarga kerajaan memiliki 7000 pangeran serta 23 ribu istri dan anak. Jelas sebuah pertaruhan hidup dan mati untuk menjaga keseimbangan antar faksi di dalam internal Bani Saud Al Wahhabi.


[islammuhammadi/mt/theglobalreviews]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar